Logo
images

Ikha Dewi, Lulusan SMK yang Sukses Jalankan Usaha Fast Courier

Berkat kejeliannya melihat peluang usaha, Ikha Dewi kini tinggal menuai hasil. Meski hanya lulusan SMK, para pencari kerja yang datang kepadanya untuk bergabung dengan Fast Courier justru banyak yang sarjana.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

DEWI layak berterima kasih kepada seorang sahabatnya yang mendorong dirinya untuk berbisnis jasa pengiriman barang. Pasalnya, selepas SMK, dia harus merasakan hari-hari pahit menjadi penganggur. Pekerjaannya adalah memburu lapangan kerja. Saat itulah Dewi dimintai tolong orang dekatnya yang berbisnis mutiara. Tugas utamanya mengurus pengiriman. ’’Jadi, dulu saya bantu kirimkan mutiara lewat Pos atau JNE,’’ terang ibu satu anak tersebut.

Menurut Dewi, masyarakat kota sangat menghargai waktu. Karena itu, menunggu di kantor-kantor pelayanan antar kirim barang tentu sangat membosankan. Kebanyakan orang berpikir bahwa ada banyak hal produktif lain yang bisa dikerjakan daripada diam menunggu antrean. ’’Kesempatan itulah yang saya manfaatkan. Saya berikan tawaran jasa antar barang ke perusahan pengiriman,’’ terangnya ketika ditemui di kawasan Jalan Catur Warga, Mataram.

Awalnya, Dewi hanya menawarkan jasa antar kirim biasa. Namun, sahabatnya menyarankan usaha itu dilegalkan. Ide tersebut disambut dengan baik. Dia pun merintis Fast Courier.

Sejak saat itu, Dewi mulai mengelolanya secara profesional. Dengan memanfaatkan dan meningkatkan jaringan yang sudah percaya kepadanya, satu demi satu dia merekrut orang untuk bergabung.

’’Ada yang statusnya sudah punya pekerjaan, ada pula yang lulusan sarjana melamar ke sini,’’ ungkapnya.

Cara kerja yang fleksibel dan tidak terikat waktu membuat banyak orang tertarik ikut bergabung. Apalagi, tawaran insentifnya sangat menggiurkan. Ada petugas yang pernah digaji Dewi sampai Rp 4 juta per bulan.

Hitung-hitungan ditentukan dari produktivitas mereka mengantarkan barang dan jasa. ’’Total karyawan saya sekarang ada 55 orang. Lima orang sebagai tim administrasi, sedangkan 50 orang lainnya adalah petugas antar,’’jelasnya.

Menariknya lagi, para pekerja diwajibkan menggunakan jaket Fast Courier ketika mengantarkan barang pesanan. ’’Kalau tidak pakai, saya beri sanksi,’’tegasnya.

Selain membangun branding usaha, Dewi melakukan hal itu untuk menghindari oknum-oknum yang ingin memanfaatkan nama besar Fast Courier. Apalagi,dia punya rencana ekspansi usaha ke Fast Clean, sebuah layanan bersih-bersih rumah pribadi. ’’Tujuan saya nanti bisa menjadi usaha one-stop service,’’ungkapnya.

Dewi telah bekerja sama dengan 35 resto di Kota Mataram. Untuk satu kali antar dengan perusahaan yang telah diajak bekerjasama, dia memasang tarif Rp 10 ribu. Selanjutnya, untuk yang tidak terikat kerja sama,dia mematok Rp 15 ribu.

Setiap hari tercatat ada 150–200 permintaan antar barang. ’’Bisa masuk Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta per hari,’’ ujarnya.

Jadi, kalau dihitung pendapatan per hari Rp 2 juta, dalam setahun, Dewi bisa mengumpulkan Rp 720 juta. Jumlah tersebut belum termasuk pendapatan yang bisa meningkat berkali-kali lipat di hari besar. Misalnya, pengiriman parsel saat Idul Fitri, Natal, dan hari-hari besar lainnya. ’’Kami buka layanan dari pukul 06.00 sampai 00.00,’’ terangnya.

Saat ini Fast Courier baru membuka tiga jenis layanan. Pertama, Fast Food,yakni layanan pengiriman kebutuhan makanan konsumen. Mulai sarapan pagi sampai makan malam.

Kedua, Fast Mart. Layanan itu cukup unik.Sebab, jika enggan keluar belanja, pelanggan hanya tinggal menyiapkan nota berisi daftar belanjaan. Petugas Fast Courier siap menggantikan berbelanja ke pasar atau supermarket. 

 sumber: 
http://www.jawapos.com/


TAG